Perpus Mandiri Cendekia: Menggerakkan Budaya Literasi

  • Dec 03, 2024
  • Siswanto

WARTA JAMBE, Jambearjo- Banyak pernyataan bahwa Indonesia budaya literasi sangat rendah sekali, seperti minat untuk mebaca, hal itu berawal dari kenyataan terkait dengan masih rendahnya budaya literasi kita. Padahal, terhitung sejak tahun 2016 sudah 6 tahun Gerakan Literasi Nasional (GLN) kita dicanangkan. Faktanya, hasil berbagai studi pada rentang waktu itu tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok. Sebelum GLN dicanangkan, Indonesia sudah masuk sebagai anggota PISA. Pada 2012 peringkat Indonesia di PISA berada di urutan ke-60 dari 64 negara. Kemampuan siswa Indonesia pada literasi membaca saat itu sangat rendah. Dikatakan bahwa karena PISA hanya digunakan untuk mengukur kompetensi siswa yang berumur 15 tahun.

Dengan posisi seperti itu, peringkat ke-60 dari 64 negara, siswa kita justru mendapat predikat sebagai siswa paling bahagia di dunia. Karena itu, Pisani (2013) menyebut bahwa siswa Indonesia adalah siswa yang bodoh, tetapi bahagia. Dalam studi PISA pada periode berikutnya (2015), hasil perolehan siswa kita juga tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Bahkan, pada ranah literasi perolehan poin siswa kita justru sangat meresahkan. Sebagian besar berada pada level kurang dari 1 (level paling buruk).

Namun, hal itu bis akita buktikan dengan pernyataan yang lain, bahwa siswa Inodonesia sebenarnya budaya baca tidak terlalu rendah, bahkan sangat luar biasa, hal itu dapat berbanding lurus dengan angka buta huruf yang semakin menipis, artinya apa, minat baca semakin naik dan tinggi peminatnya.

Kemudian, problem lain adalah daya baca siswa tinggi, namun untuk menangkap makna ataupun arti dari kalimat itu yang masih rendah, misalkan ketika siswa disuruh membaca, mereka lancar, kemudian jika disuruh untuk menjelaskan bahkan mencerikankan makna hasil yang dibaca tersebut sangat susah. Ini yang menimbulkan ketidak mengertian siswa dalam menangkap makna tersebut. Deep Learning yang harus kita dorong ke depan supaya siswa dapat memberikan dan menjelaskan maksud dan makna dari sebuah pragraf.

Hal ini, pemerintah desa Jambearjo memberikan dan mendorong serta membangkitkan perpustakaan desa untuk menjadi sentral dalam meningkatkan budaya learning dalam menagkap maknanya. Perpustaan desa mandiri cendekia ini selalu di kunjungi oleh siswa, warga desa dalam rangka untuk merawat budaya baca yang semakin digantikan dengan melek dunia digital.

Kunjungan kali ini dilakukan oleh SD 1 desa Jambearjo untuk menggeliatkan tradisi baca yang baik. kehadiran banyaknya siswa SD 1 ini, menandakan budaya baca para siswa desa Jambearjo di perpustakaan desa ini masih sangat baik dan terjaga. Sebagai layanan edukasi dan menyebarkan deep learning dikalangan siswa sebagai proses pembelajaran mandiri.