Dari Ide Jadi Cuan, PKM FEB UB Latih Pelajar Jambearjo Berpikir Kritis dan Berbisnis Lewat Program Jambearjo Next Gen

  • Jul 15, 2026
  • WartaJambe

JAMBEARJO – Melanjutkan rangkaian program Jambearjo Next Gen yang digelar pada 14 Juli 2026, mahasiswa Program Kerja Mahasiswa (PKM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya menghadirkan tiga sesi lanjutan bagi pelajar Desa Jambearjo, yaitu pengenalan kewirausahaan bertajuk StudentPreneur, pelatihan desain grafis menggunakan Canva, serta simulasi pengambilan keputusan bisnis melalui studi kasus nyata.

Pada sesi ketiga, peserta diajak memahami bahwa memulai bisnis tidak memerlukan modal besar, pengalaman, maupun usia tertentu. Mahasiswa menjelaskan bahwa kewirausahaan adalah kemampuan melihat peluang, menciptakan solusi, dan mengubahnya menjadi usaha yang bermanfaat, dengan rumus sederhana yaitu masalah, ide, solusi, dan bisnis. Peserta diyakinkan bahwa siapa pun bisa menjadi entrepreneur, termasuk pelajar, dengan modal relatif kecil seperti berjualan makanan, menjadi reseller, membuka jasa desain, hingga merintis bisnis digital. Ditekankan pula bahwa peluang usaha berawal dari kepekaan terhadap masalah di sekitar, dan waktu terbaik untuk memulai adalah sekarang, karena pembelajaran justru datang dari proses, bukan sebelum memulai.

Sebagai bekal praktis, mahasiswa memperkenalkan konsep business plan sebagai dokumen perencanaan usaha yang mencakup target pasar, Business Model Canvas, analisis SWOT, kebutuhan modal, perhitungan Harga Pokok Produksi, hingga estimasi keuntungan. Rumus dasar turut diajarkan, yaitu modal sebagai total biaya awal usaha, HPP sebagai total biaya produksi dibagi jumlah produk, dan keuntungan sebagai selisih harga jual dengan HPP.

Sesi keempat dilanjutkan dengan pelatihan desain grafis menggunakan Canva, platform desain berbasis web yang memudahkan pembuatan poster, presentasi, konten media sosial, hingga materi promosi usaha. Peserta diajak memahami fungsi praktis Canva, mulai dari membuat pamflet dan CV hingga mendukung kegiatan belajar, organisasi, maupun promosi bisnis yang tengah mereka rintis.

Pada sesi kelima, peserta diajak masuk ke simulasi pengambilan keputusan bisnis lewat pendekatan yang disebut THINK Analysis, yaitu kerangka berpikir yang terdiri dari menentukan situasi berdasarkan fakta, mencari akar hambatan utama, mengidentifikasi minimal dua hingga tiga alternatif solusi, menilai risiko dari tiap pilihan, hingga menetapkan keputusan terbaik beserta alasannya. Peserta yang diposisikan sebagai pemilik usaha kemudian didampingi menyelesaikan tiga studi kasus berbeda, yaitu kasus penjual kripik singkong yang harus memilih antara bertahan di warung desa atau merambah penjualan daring, kasus keikutsertaan dalam bazar desa dengan pertimbangan biaya sewa dan potensi pembeli, serta kasus pembagian hasil usaha patungan antara dua sahabat. Ketiga kasus ini membekali peserta dengan konsep ekonomi praktis, mulai dari risiko dan hasil, biaya dibandingkan manfaat, hingga hal yang dikorbankan dalam setiap pilihan.

Sebagai gambaran konkret penerapan business plan, ditampilkan pula contoh rencana usaha Es Teh Jumbo, minuman yang digemari berbagai kalangan dengan modal produksi kecil dan proses pembuatan yang mudah. Dalam contoh ini, dijabarkan perhitungan HPP per gelas sebesar Rp2.500, harga jual Rp5.000 per gelas, sehingga jika terjual 50 gelas, pelaku usaha berpotensi meraih keuntungan hingga Rp125.000. Contoh ini turut melengkapi analisis SWOT sederhana, mulai dari kekuatan modal kecil dan mudah dibuat, hingga ancaman berupa banyaknya pesaing sejenis.

Melalui rangkaian sesi lanjutan ini, program Jambearjo Next Gen tidak hanya membekali pelajar Desa Jambearjo dengan pemahaman dasar kewirausahaan dan kemampuan desain promosi, tetapi juga melatih pola pikir kritis dalam mengambil keputusan bisnis secara terukur. Mahasiswa PKM FEB UB berharap bekal ini dapat menjadi modal awal bagi generasi muda desa untuk berani memulai usaha sejak dini.